indoBRITA, Bitung— Dihadapan ratusan warga yang mengamuk dan memaki serta menghujat lemahnya penanganan persoalan, Wakil Wali Kota Bitung didampingi Kapolres Bitung AKBP Arie Sulistyo Nugroho, S.I.K., M.H., dan Dandim 1310/Bitung Letkol Inf. Dewa Made DJ dan unsur terkait lainnya turun langsung meredakan amarah massa di depan PT Futai yang terletak di Kelurahan Tanjung Merah Kecamatan Matuari, Rabu (15/7/2026) dini hari.
Massa yang berjumlah ratusan orang terdiri dari pemuda, remaja, orang tua dan ibu-ibu ini berteriak-teriak memaki serta menuntut agar PT Futai perusahaan yang selama ini mereka protes karena limbah mereka menimbulkan bau busuk untuk segera ditutup dan di police line serta pelaku pelemparan batu pasca insiden yang menyebabkan sedikitnya empat warga menderita luka-luka untuk segera ditangkap.
‘Kita percayakan pada aparat Kepolisian untuk penanganannya dan saat ini PT Futai ditutup,” ujar Wawali Maringka melalui megaphone dihadapan warga yang emosi.
Meski demikian teriakan-teriakan dan makian warga yang kecewa terhadap Pemkot Bitung terus disuarakan di hadapan Forkopimda yang hadir.
Dengan sabar, Wawali Maringka mendengarkan keluhan-keluhan serta teriakan warga, bahkan titik negosiasi yang awalnya persis di depan PT Futai berpindah ke tengah jalan raya.
Wawali dan Forkopimda usai meredakan amarah massa kemudian menyambangi salah satu warga teridentifikasi bernama Krisna Hontong warga setempat yang kepalanya diperban setelah sebelumnya mandi darah akibat lemparan batu yang diduga berasal dari dalam PT Futai.
Maringka juga didampingi Kapolres dan Dandim 1310/Bitung berdialog bersama ibu dan kakak korban serta berjanji akan mengurus pengobatan serta mendengarkan keluhan dari keluarga.
Tak cukup sampai disitu, rombongan Wawali kemudian menyambangi korban lainnya di Rumah Sakit Manembo-nembo dan menyatakan keprihatian atas musibah yang menimpa warga.
Sebelumnya, awal kejadian dimulai saat warga yang kesal karena diduga Perusahaan yang sebelumnya telah disepakati bersama Wali kota Bitung beberapa waktu lalu untuk ditutup sementara akibat bau limbah mereka, kembali beroperasi dengan adanya bau busuk tercium serta aktifitas pergerakan truk-truk kontainer dari dan ke Perusahaan PMA asal negeri Ginseng tersebut.
Aksi massa yang awalnya hanya memblokade jalan agar truk-truk kontainer dari Perusahaan tidak bisa lewat mendadak ricuh saat warga yang berinisiatif menuntun truk kontainer untuk masuk kembali ke area perusahaan, mendapat perlawanan lemparan batu yang diduga berasal dari dalam perusahaan tersebut.
Tercatat ada empat orang warga yang luka parah bahkan dilarikan ke Rumah Sakit untuk mendapatkan pertolongan, salah satunya adalah Krisna Hontong yang pecah kepala akibat lemparan batu.
Respon warga yang sudah terlanjur tersulut kemudian berkumpul dan mendatangi perusahaan untuk melakukan perlawanan.
Tak cuma melakukan perkawanan, warga dengan emosi tinggi membakar sejumlah bangunan di dalam perusahaan diantaranya mess karyawan serta parkiran motor, bahkan satu unit Pikap ikut terbakar.
Aparat Gabungan dari Polres Bitung dan Kodim 1310/Bitung dibantu anggota dari Batalion TP Pembangunan dikerahkan untuk meredam aksi massa yang masih terus berkumpul di depan pagar perusahaan.(*)





