Di era digital, setiap pemimpin membutuhkan komunikasi publik yang baik. Namun komunikasi yang sehat berbeda jauh dengan propaganda murahan yang diproduksi secara massal oleh kelompok buzzer abal-abal.
Yang lebih memprihatinkan, di balik aktivitas tersebut sering kali ada oknum-oknum yang diduga menjadi fasilitator, pengarah, bahkan penyandang dana demi kepentingan pribadi.
Mereka mungkin mengatasnamakan loyalitas kepada pemimpin.
Mereka mungkin mengklaim sedang membela pemerintah. Namun yang sebenarnya terjadi justru sebaliknya. Mereka sedang membangun tembok antara pemimpin dan rakyatnya.
Para fasilitator buzzer abal-abal ini tampaknya percaya bahwa popularitas bisa dibeli dengan unggahan berantai, komentar seragam, dan serangan terhadap siapa saja yang berbeda pendapat.
Mereka mengira pujian yang diproduksi secara massal akan menciptakan citra positif. Padahal publik hari ini jauh lebih cerdas dibandingkan yang mereka bayangkan.
Masyarakat dapat membedakan mana dukungan yang lahir secara alami dan mana yang lahir karena koordinasi kelompok tertentu. Masyarakat bisa melihat ketika satu narasi diulang terus-menerus oleh akun yang sama, dengan pola yang sama, bahkan dengan bahasa yang hampir identik.
Alih-alih mengangkat citra pemerintah, pola semacam ini justru menimbulkan kecurigaan dan antipati.
Yang paling berbahaya bukanlah buzzer itu sendiri, melainkan para aktor yang berada di belakang layar.
Mereka yang memfasilitasi, mengarahkan, dan mengorganisir operasi semacam ini sesungguhnya sedang menciptakan ruang informasi yang tidak sehat.
Ketika kritik dibalas dengan cacian, ketika warga yang bertanya dianggap musuh, ketika perbedaan pendapat dicap sebagai oposisi, maka yang sedang dirusak bukan hanya kualitas demokrasi, tetapi juga legitimasi moral seorang pemimpin.
Pemimpin yang kuat tidak membutuhkan pasukan digital untuk menyerang rakyatnya sendiri.
Pemimpin yang percaya diri akan membiarkan kinerjanya berbicara. Sebaliknya, hanya mereka yang takut pada kritik yang merasa perlu membangun pasukan maya untuk menciptakan ilusi dukungan.
Ironisnya, para fasilitator buzzer ini sering kali memiliki agenda yang jauh dari kepentingan publik. Ada yang berharap mendapatkan akses kekuasaan. Ada yang ingin mengamankan proyek. Ada yang sekadar ingin mempertahankan posisi dan kedekatan dengan lingkaran pemerintahan. Dalam kondisi seperti itu, pemimpin bukan lagi tujuan yang mereka perjuangkan, melainkan alat yang mereka gunakan.
Di sinilah letak bahayanya.
Ketika seorang pemimpin dikelilingi oleh orang-orang yang hanya menyajikan pujian, maka ia akan kehilangan akses terhadap suara rakyat yang sebenarnya. Kritik yang seharusnya menjadi alarm perbaikan justru disembunyikan. Keluhan masyarakat ditenggelamkan. Fakta di lapangan ditutupi oleh pencitraan.
Sejarah politik di berbagai tempat menunjukkan bahwa banyak pemimpin mengalami kemunduran bukan karena terlalu banyak dikritik, melainkan karena terlalu banyak dipuji oleh orang-orang yang memiliki kepentingan.
Karena itu, publik perlu lebih waspada terhadap fenomena ini. Jangan mudah terpancing oleh narasi yang sengaja dirancang untuk memecah belah masyarakat.
Jangan biarkan ruang publik dikuasai oleh akun-akun yang menjadikan emosi sebagai senjata dan fitnah sebagai strategi.
Lebih penting lagi, para pemimpin daerah harus berani mengambil jarak dari kelompok-kelompok semacam ini. Sebab dalam jangka panjang, fasilitator buzzer abal-abal bukanlah aset politik, melainkan liabilitas politik.
Mereka mungkin terlihat berguna hari ini, tetapi pada akhirnya merekalah yang berpotensi merusak reputasi yang dibangun dengan susah payah.
Sebuah pemerintahan yang kuat lahir dari transparansi, kritik, dan dialog yang sehat. Bukan dari tepuk tangan yang direkayasa. Bukan dari komentar yang dikendalikan. Dan tentu saja bukan dari para fasilitator buzzer yang menjadikan ruang digital sebagai alat transaksi kekuasaan.
Sebab ketika kritik dianggap musuh, maka yang sedang dibangun bukan demokrasi, melainkan kultus.
Dan ketika kultus mulai menggantikan akal sehat, kerugian terbesar bukan hanya bagi rakyat, tetapi juga bagi pemimpin yang mereka klaim sedang dibela.(Steven)





